Kemampuan Akademik dan Penunjangnya

Oleh: Riki Eka Putra

Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang

SUATU kali, kepala bagian personalia di tempat saya bekerja bercerita tentang proses rekrutmen karyawan baru. Ia mengatakan ada seorang sarjana yang baru lulus dari sebuah perguruan tinggi mengikuti tes wawancara. Saat disodorkan sebuah pertanyaan tentang disiplin ilmu yang dipelajari, sarjana yang hendak melamar kerja tersebut tak mampu menjawab dengan baik. Padahal ia sudah kuliah lebih dari empat tahun dengan IPK yang cukup tinggi. 

Di samping itu, sarjana tersebut juga tak mampu berkomunikasi dengan lancar. Ia tampak gugup dan kurang percaya diri. Bahasa Indonesia yang dimilikinya juga belepotan.

Bisa dibayangkan hasilnya. Sarjana tersebut ditolak. Kasihan memang. Tapi apa boleh buat. Hanya orang-orang terbaiklah yang terpilih untuk dipekerjakan agar hasil optimal bisa didapatkan.

Memang, mendapatkan sebuah pekerjaan layak tak semudah yang dibayangkan. Apalagi saat ini, dimana begitu banyak sarjana yang jadi pengangguran. Bahkan tak sedikit diantaranya yang bergelar S2.

Selembar ijazah dengan nilai IPK tinggi sekalipun tak bisa jadi jaminan untuk bersaing dengan calon karyawan lain. Penyebabnya karena banyak sarjana yang tak menguasai disiplin ilmu yang dipelajari.

Nilai yang tertera di ijazah memang tinggi, tapi pada kenyataannya ilmu yang dimiliki amat dangkal. Hal tersebut diperparah lagi dengan tidak adanya kemampuan penunjang, seperti bisa berkomunikasi dengan baik, percaya diri, penguasaan bahasa asing, mental yang kuat, mudah bersosialisasi, pandai menulis, dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, penguasaan atas bidang keilmuan yang dipelajari adalah hal yang sangat penting guna menembus dunia kerja. Terlebih lagi pekerjaan yang membutuhkan disiplin ilmu tertentu. Misalnya lowongan kerja sebagai guru sebuah mata pelajaran.

Hanya pelamar yang memiliki kemampuan mengajar dalam mata pelajaran tersebut yang akan diterima. Apa gunanya deretan angka-angka tinggi di atas selembar ijazah, jika si pelamar tidak bisa mengajarkan ilmu yang ia punyai pada peserta didik.

Di samping itu, hal lain yang tak kalah penting adalah kemampuan penunjang. Terserah apapun bentuknya. Selagi baik, milikilah segera. Apakah itu komunikasi yang lancar, pandai menulis, sikap pantang menyerah, bisa berbahasa asing, dan lain sebagainya. Karena ada kalanya hal ini jadi pembeda antara calon karyawan yang diterima dengan calon yang ditolak.

Mengenai pentingnya hal ini, saya memiliki seorang teman yang sewaktu kuliah berkemampuan akademis biasa-biasa saja. Setelah tamat pun nilai IPK yang ia peroleh pas-pasan. Hanya sedikit di atas standar minimal untuk bisa melamar pekerjaan. Tetapi ada satu kemampuan yang ia punya yakni pintar berbicara dan bernegosiasi dengan orang lain. Akhirnya dengan bermodalkan kemampuan itu, teman tersebut diterima bekerja di sebuah lembaga keuangan ternama. Kini ia sudah memiliki sebuah jabatan yang cukup strategis dan membawahi beberapa orang anggota.

Di sisi lain, tak sedikit teman saya yang sebenarnya pintar secara akademik. Mereka memiliki IPK tinggi setamat kuliah. Namun sayangnya tak memiliki kemampuan penunjang yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Sehingga sebagian besar diantaranya kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak.

Jadi, guna menembus dunia kerja, seorang sarjana hendaknya memiliki dua kemampuan, kemampuan akademik dan kemampuan penunjang. Dengan kemampuan tersebut, pekerjaan yang diidam-idamkan bukan sekedar khayalan, namun akan bisa jadi kenyataan. (*)
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama