Rp3 Triliun Terbakar Sia-sia


PADANG, MJ News - Rokok bagi Udin sudah menjadi bagian dalam hidup. Ia lebih rela menahan perut lapar, daripada tidak merokok setiap hari.

Setiap mendapat gaji dari pekerjaannya, uang untuk rokok sudah ia sisihkan terlebih dahulu, sebelum diberikan pada istri di rumah.

Ia tidak ingin teledor ataupun khilaf, karena kalau uang sudah sampai di tangan sang istri, alamat tak akan dapat ia minta kembali.

“Bagi saya rokok teman saat sepi, saat dingin, dan saat suntuk. Susah bagi saya untuk tidak merokok,” katanya.

Dalam satu hari kalau ia berhemat, ia bisa menghabiskan satu bungkus rokok. Namun jika tidak lagi berhemat alias sedang banyak uang, ia bisa menghabiskan dua bungkus perhari.

“Jika satu bungkusnya Rp15.000, berarti paling banyak saya menghabiskan uang Rp30.000 per hari,” ujarnya.

Ia mengaku sadar jika apa yang ia lakukan hanya menambah penyakit, mubazir, dan menyusahkan orang lain. Zaman sekarang, satu
bungkus rokoknya bisa untuk membeli beras.

“Saya sudah coba berhenti, namun ketika berkumpul dengan teman kambuh lagi,” katanya.

Sementara Acin yang sudah mengalami sesak nafas, masih betah juga untuk merokok. Padahal dokter sudah mewanti-wantinya, jika ingin cepat sembuh. Tapi dasar tak bisa ditahan, ia tetap merokok.

“Kata dokter, kalau saya tidak berhenti merokok bisa-bisa saya tak sembuh sampai mati,” ujarnya.

Awalnya ia takut, namun kemudian balik lagi bebalnya kumat. Pikirannya mengatakan, kalau mau mati pasti mati juga.

“Ya sudahlah, kalau memang harus mati dengan cara ini, pasrah saya,” tuturnya.

Dalam sehari ia mengaku bisa juga menghabiskan uang Rp30.000. Paling sedikit ia menghabiskan uang Rp15.000 per hari untuk membeli rokok. Ia pun tak mau ambil pusing dengan uang yang telah ia keluarkan dari awal merokok sampai sekarang.

Terlihat sederhana, setiap perokok menghabiskan Rp30 ribu setiap hari untuk membeli rokok. Rokok dihisap menjadi asap, berakhir sebagai abu dan tinggal sebagai penyakit di badan. Tahukah Anda, bila dihitung dengan jumlah perokok di Sumbar, beban ekonomi itu sangatlah besar.

Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar, lebih dari 1,2 juta orang merokok di daerah ini. Dengan angka itu, Sumbar termasuk nomor enam terbesar di Indonesia.

Bila dirata-ratakan satu hari setiap orang menghabiskan sebungkus rokok dengan harga Rp8 ribu, maka uang yang terbakar adalah Rp9,7 miliar lebih per hari. Kalau dibulatkan setahun, berarti Rp3,5 triliun. Angka itu tak ada artinya bila dibandingkan dengan biaya jaminan kesehatan di Sumbar setiap tahun yang hanya mencapai 341 miliar. Bayangkan, kalau uang rokok yang terbakar itu digunakan sebagai biaya jaminan kesehatan, entah berapa rumah sakit, Puskesmes, dan asuransi kesehatan yang bisa dinikmati masyarakat.

Beban ekonomi yang besar bagi perokok belum seberapa dibandingkan dampak kesehatan. Jutaan perokok berpotensi menjadi penderita berbagai penyakit akibat merokok. Perawatan kesehatan bagi penderita penyakit akibat merokok ini menjadi beban ekonomi tersendiri. Pemerintah daerah di Sumbar selalu rutin mengalokasikan ratusan miliar lewat APBD untuk anggaran kesehatan. Belum lagi beban biaya kesehatan yang ditanggung perokok sendiri. Dampak itu belum seberapa bila dibandingkan dengan angka kematian akibat merokok.

Di Sumbar, sampai September 2016, data berapa korban meninggal akibat merokok belum ada. Namun, secara nasional 427.948 orang meninggal akibat merokok. Artinya, 1.172 orang mati setiap hari karena rokok.

Perokok Jadi Beban Negara

Data dari riset kesehatan daerah (Riskesdas) pada 2007, jumlah perokok di daerah ini sudah berada pada taraf yang sangat mengkhawatirkan. Yakni, Sekitar 1,2 juta atau lebih dari seperempat populasi penduduk Sumbar merupakan perokok aktif.

Sedangkan di Indonesia jumlah perokok mencapai 140 juta. Atau lebih dari setengah populasi penduduk Indonesia merupakan perokok aktif, lebih besar dibanding Cina yang hanya seperempat jumlah penduduknya.

Dari 140 juta perokok itu, setiap tahun kematian akibat rokok diperkirakan Kematian akibat rokok 427.948 orang pertahun 1172 orang per hari.

Pada tahun 2008, Tobacco Free Initiative (TFI) WHO Regional Asia Tenggara telah merilis survey pemakaian rokok di Indonesia.

Dari data didapatkan informasi bahwa jumlah perokok per hari di Indonesia adalah sekitar 63,2 persen dari seluruh laki-laki perokok dan 4,5 persen perempuan perokok dewasa (di atas 15 tahun).

Menurut Riskesdas 2007, Sumatera Barat merupakan Provinsi yang menempati urutan ke-6 tertinggi yang mempunyai jumlah perokok tiap hari, yaitu 25,7 persen. Artinya jika penduduk Sumbar sekitar 4,8 juta jiwa, sekitar 1,2 juta jiwa adalah perokok tiap hari.

Disamping 25,7 perokok tiap hari di Sumbar, masih ada lagi 4,5 persen perokok kadang-kadang dan 2,3 persen mantan perokok. Artinya angka 1,2 juta jiwa tadi masih bertambah 4,5 persen (sekitar 240.000 jiwa) yang merokok kadang-kadang yang tentu tetap terdampak, Dan 2,3 persen (sekitar 120.000 jiwa) yang mantan perokok, yang tetap sudah terdampak, tapi tentunya tidak sebesar perokok tiap hari dan mantan perokok.

Sementara, sebaran perokok di kabupaten/kota menurut Riskesdas, 2007, dimana Kabupaten Sijunjung menempati urutan tertinggi yaitu 31,1 persen, diikuti Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok. Dan yang terendah pada saat itu (tahun 2007) adalah Kota Payakumbuh.

“Artinya budaya merokok menjadi beban berat bagi kabupaten/kota, yang mempunyai angka merokok tiap hari tinggi. Diharapkan program KTR ini mendapatkan prioritas di kabupaten/kota masing-masing,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Rosnini Savitri.

Data Reskesdas 2007, juga menyatakan bahwa usia perokok di Indonesia semakin muda. Demikian juga di Sumbar, kelompok umur perokok yang paling muda ditemukan berusia 5-9 tahun (1,5 persen). Dari survey tersebut ditemukan bahwa 53,8 persen perokok adalah kaum remaja. Jumlahnya meningkat dua kali lipat dari tiga tahun sebelumnya. Angka tertinggi perokok remaja adalah pada usia 15-19 tahun (40,1 persen). Yang lebih mengerikan adalah sebagian dari pemuda-pemuda tersebut, 30 menit setelah bangun tidur sudah ingin merokok.

Meningkatnya jumlah perokok muda dari tahun ke tahun tidak bisa terlepas dari pengiklanan rokok yang begitu gencar dan fantastis dengan ikon.

Tingginya jumlah perokok remaja merupakan suatu potret buram generasi mendatang yang akan memimpin negeri ini dan merupakan suatu ancaman serius. Perokok muda yang mencapai lebih dari 50% dari seluruh perokok akan menjadi ancaman bagi negara mengingat efek buruk rokok yang akan mengurangi produktivitas kerja yang besar.

Dijelaskan Rosnini, secara medis sudah tak dapat dipungkiri lagi, bahwa rokok menjadi salah satu faktor resiko kanker paru yang mematikan dan sulit disembuhkan itu. Saat ini telah ditemukan beberapa pasien kanker paru yang berusia kurang dari 30 tahun akibat konsumsi rokok di usia muda padahal dulu kanker paru mengenai pasien berusia 50 tahun ke atas. Efek merokok bagi remaja lainnya adalah bronkitis kronis, emfisema (kehilangan elastisitas paru), gangguan perkembangan saraf yang menyebabkan gangguan intelektual, osteoporosis, disfungsi ereksi, serangan jantung, stroke, termasuk gangguan jiwa seperti mudah gelisah, depresi, dan cenderung ke penyalahgunaan obat.

Jika kecenderungan meningkatnya jumlah perokok remaja tidak dianggap sebagai ancaman serius, maka dapat diprediksi generasi muda Indonesia dalam beberapa dekade mendatang menjadi generasi penerus bangsa yang tidak produktif dan kehilangan daya saing karena penyakitnya. Indonesia diprediksi akan mengalami kekurangan sumber daya manusia potensial. Generasi muda akan cenderung menjadi beban bagi negara sehingga mengganggu ketahanan nasional.

Jika dilihat dari konsumsi rokok yang digunakan, 67,9 persen menggunakan kretek dengan filter, 28,5 persen kretek tanpa filter, serta rokok putih 12,2 persen. Kurang dari 2 persen yang menggunakan rokok linting, cangklong, tembakau kunyah dan lainnya.

Bagi perokok Aktif (orang yang menggunakan/mengkonsumsi rokok secara langsung) rokok dapat menyebabkan kanker pundi kencing, kanker perut, kanker usus dan rahim, kanker mulut, kanker Esofagus, kanker tekak, Kanker pankrias, kanker payudara, Kanker paru-paru. Kemudian penyakit saluran pernafasan kronik, strok, pengkroposan tulang atau yang dikenal dengan osteoporosis, penyakit jantung, Kemandulan, Putus haid awal, Melahirkan bayi yang cacat, Keguguran bayi, Bronkitis, Batuk, Penyakit ulser peptik, Emfisima, Otot lemah,Impotensi, Penyakit gusi, Kerusakan mata, dan lainnya.

Bagi perokok Pasif (orang yang menghirup langsung asap rokok meningkatkan risiko kanker paru-paru dan penyakit jantung, masalah pernafasan termasuk radang paru-paru dan bronkitis, sakit atau pedih mata, bersin dan batuk-batuk, sakit kerongkong, sakit kepala, dan lainnya.

Di Sumatera Barat terdapat Rp3,5 triliun yang dibakar setiap tahunnya untuk rokok. Padahal biaya Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun 2012 hanya Rp524.267.110.749,-

BLT hanya 100.000 per keluarga, berdasarkan data statistik Sumbar 2010, masyarakat yang tercatat sebagai fakir miskin sebanyak 430.024 jiwa.

Jika diasumsikan 1 keluarga ada 5 orang, maka ada 86.000 KK, maka total biayanya BLT berkisar 860.000.000. Dana akan untuk penanggulangan kemiskinan, serta bantuan untuk lansia dan masyarakat cacat berat hanya Rp26,2 miliar dari kementerian Sosial RI. Sekitar 257.438 rumah tangga saran (RTS) sekitar 4.000 ton per bulan, jika diasumsikan harga berkisar 6.200 sd 6.800, berkisar 297.600.000.000 sampai 326.400.000.000 per tahun.

Uang yang dibakar untuk merokok itu pada beberapa kabupaten/kota bahkan lebih besar dari anggaran APBD Kabupaten/Kota tersebut, dan hampir di semua kabupaten kota uang yang dibakar jauh lebih besar daripada APBD Kesehatan.

Bahkan Jaminan Kesehatan pun membutuhkan dana yang lebih kecil daripada uang yang dibakar untuk rokok. Tidak ada batas aman bagi orang yang terpapar asap rokok.

Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, melalui SK Kadinkes telah menetapkan bahwa Dinkes adalah Kawasan Tanpa Rokok. Ada pengawas KTR di Dinkes Provinsi yang di-SK-kan melalui SK Kepala Dinas dan bagi yang melanggar dikenakan sanksi/denda sesuai aturan.

Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat bersama DPRD telah menetapkan Perda No. 8 Tahun 2012 tentang Kawasan Tanpa Rokok dimana, Pasal 4 KTR meliputi: fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja dan tempat umum. (tim)
September 2016
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama