Gamad, Kesenian Tradisional Minangkabau Terancam Punah

loading...


Padang, MJ News - Kesenian tradisional Minang Gamad sudah mulai jarang dipentaskan dan terancam punah. Hal ini disebabkan karena para pemusik dan pemain pada umumnya berasal dari kalangan paruh baya dan sudah banyak pula meninggal dunia.

Hal itu terungkap dalam workshop musik Gamad yang digelar di aula Dinas Kebudayaan Sumatera Barat (Sumbar), Senin (23/3/2020). Kegiatan itu berlangsung 2 hari yang diikuti 38 peserta dari kabupaten/kota.

Kepala Taman Budaya Sumbar, Muasri usai membuka kegiatan tersebut mengatakan, kesenian tradisional Gamad ini booming atau top pada 1980-an yang salah satu penyanyi gamad ketika itu Yan Juned.

Disebutkannya, workshop ini untuk lebih mengali dan menghidupkan kembali gamad ini di tengah masyarakat yang sudah mulai luntur. Di samping itu, bagaimana meregenerasi gamad tersebut ke kaum muda.

“Saat ini untuk penyanyi gamad dari kalangan anak muda masih cukup banyak, namun dari kalangan pemusik dan pemain yang kurang dari generasi muda,” ujar Muasri.

Setelah selesai workshop musik gamad ini akan ditindaklanjutkan dengan parade grup musik gamad untuk lebih menghidupkan gamad ini.

Dijelaskannya, Gamad kesenian musik tradisional Minang yang berasal dari pengaruh musik Portugis. Ini dapat dilihat dari alat-alat musik khas Portugis (Eropa) yang dipakai seperti biola, akordion, saksofon, terompet, dan gendang rampak.

“Orang-orang Portugis suka berpesta dengan bernyanyi diiringi grup musik di atas kapal, saat itulah orang Minang dan Nias ikut serta, kemampuan menguasai alat musik dan bernyanyi ini kemudian mereka bawa ke darat sebagai cikal bakal gamad. Oleh seniman, Gamad permainan musik ala Portugis disesuaikan dengan kondisi lokal, termasuk syair-syair berbahasa Minang, sehingga gamad mempunyai ciri khasnya sendiri,” imbuh Muasri.

Ditambahkan, ke depannya akan diperbanyak iven-iven kesenian gamad dan lebih memperkenalkannya kepada siswa di sekolah. Instruktur workshop tersebut, teknik bermain gamad disampaikan oleh Rizaldi, sejarah gamad disampaikan Dr. Anatona Gulo dan estetika pertunjukan gamad disampaikan Tawanto Karim. (rel)




 

Komentar Anda

Lebih baru Lebih lama