Pihak RSUP M. Djamil Keluhkan Karyawan Diperlakukan Diskriminatif

loading...

Wakil Ketua DPRD Padang, Ilham Maulana saat mengunjungi RSUP M. Djamil, Rabu (15/4/2020). (ist)

mjnews.id - Pihak Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M. Djamil mengeluhkan saat ini banyak karyawan baik tenaga medis maupun lainnya yang mendapat perlakuan diskriminatif dari masyarakat.

Alasannya, mereka takut karyawan M. Djamil membawa virus di tengah pendemi Covid-19 ini. Padahal asumsi itu tidaklah benar, karena tenaga medis maupun karyawan tidak semuanya berhubungan langsung dengan penanganan pasien Covid-19.

Hal itu disampaikan Kepala Bagian Umum RSUP M Djamil Padang Syafriar Naeli soal suka duka karyawan RSUP M Djamil sejak adanya kasus Covid-19, ketika Wakil Ketua DPRD Padang, Ilham Maulana mengunjungi rumah sakit itu, Rabu (15/4/2020).

“94 persen karyawan kami tinggal di Padang. Keluhan kami, karyawan kami ada yang diusir oleh pemilik rumah kos karena dianggap membawa penyakit. Yang diusir adalah perawat,” ungkapnya.

Kedatangan Ilham Maulana berkunjung ke RSUP M. Jamil Padang dalam rangka melihat sejauh mana kesiapan rumah sakit tersebut dalam melayani pasien Covid-19. Kedatangan Ilham Maulana didampingi anggota Komisi II Meilasa Waruwu dan staf sekretariat DPRD Padang.

Ilham Maulana dan rom bongan disambut oleh Kepala Bagian Umum RSUP M Djamil Padang Syafriar Naeli, Konsultan Hukum Yul Akhyari Sastra dan jajaran.

Namun, begitu, Syafriar Naeli tak mempersoalkan kasus tersebut. Apalagi, saat ini Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sudah menyediakan asrama bagi perawat.

“Kami minta DPRD Padang untuk memfasilitasi persoalan ini. Kami juga berharap, Pemko juga mem- fasilitasi asrama untuk karyawan kami,” harapnya.

Konsultan Hukum RSUP M Djamil, Yul Akhyari Sastra mengatakan, tenaga medis yang diusir oleh pemilik kos karena stigma salah. Padahal, setiap petugas dan tenaga medis yang menangani Covid-19, ada protokol yang berlaku.

“Pokoknya protokolnya luar biasa. Persepsi yang salah itu, harus kita luruskan. Perawat atau tenaga medis keluar dari ruang isolasi itu harus melewati lima proses sterilisasi. Jadi kita yakin mereka sudah steril ketika keluar,” ujarnya.

Meski dia mengaku ada tenaga medis yang terpapar, namun itu murni karena kealpaan dengan proteksi diri. Misalnya saja mereka sudah kelelahan dalam melayani pasien karena bertugas terlalu lama sehingga mereka alpa dengan keamanan dirinya.

“Kini kami sudah menerapkan enam shift untuk menjaga agar tenaga medis tidak terlalu kelelahan dalam melayani pasien. Sebelumnya hanya tiga shift,” katanya.

Sementara terkait Alat Pelindung Diri (APD), dia mengaku saat ini M. Djamil juga kekurangan.

“Kita berharap Pemko juga bisa menyalurkan APD ke M. Djamil,” katanya.

Ilham Maulana menyayangkan kejadian tersebut. Dia mengaku akan mencoba memfasilitasi pemakaian Rusunawa yang ada untuk asrama perawat tersebut.

“Padang punya rusunawa yang dapat dipakai untuk asrama tenaga medis. Kami akan koordinasikan dengan pemko,” ujarnya.

Terkait APD, dia mengaku juga akan memfasilitasi agar Pemko segera membantu rumah sakit yang menjadi rujukan Covid-19 tersebut.

“Di samping itu kita juga meminta Pemko melalui Dinas PUPR agar melakukan pengaspalan di beberapa titik di M. Djamil karena saat ini banyak yang belum diaspal sehingga menyebabkan banyak debu,” pungkasnya. (*/eds)




 

Komentar Anda

Lebih baru Lebih lama