Penganiayaan di Nias Barat, Saling Lapor dan Mengaku Korban

Ilustrasi. (hukum online)


NIAS BARAT-Kasus penganiayaan di Kabupaten Nias Barat, Desa Fadoro, Kecamatan Sirombu yang terjadi pada 2 Mei 2021 kini lagi jadi bahan perbincangan di media sosial dan sedang ditangani pihak berwajib.  Perkembangan terbaru, kedua belah pihak saling membuat laporan polisi. 

Kapolsek Sirombu, Ipda Osiduhugo Daely mengatakan, laporan penganiayaan ini sama-sama mengaku korban. Saling lapor itu sedang didalami dengan memanggil saksi. Belum ada penetapan tersangka. 

"Kasus ini dalam penyelidikan dan kita proses dengan meminta keterangan sejumlah saksi," sebut Kapolsek.

Besokhi Hia (25) yang menjadi salah satu korban pengeroyokan dan penikaman. Korban sedang menjalani perawatan di RSUD dr. M. Thomsen Nias. Kuat dugaan, pelaku penikaman mengarah pada seorang kepala desa. Dia diduga melakukan penikaman dan pengeroyokan bersama sejumlah warga lainnya.

Korban Besokhi Hia menuturkan, kejadian tersebut berawal pada Minggu, sekira pukul 04.30, ketika dia pulang dari rumah familinya untuk pengambilan obat karena ada keluarganya yang sedang sakit.

"Ketika saya pulang, oknum kepala desa dan kawan-kawannya menghadang saya dan melakukan pengeroyokan serta penikaman di perut sebelah kanan dan pada bagian tubuh lainnya," jelasnya.

Korban mengakui, dirinya tidak pernah ada sentimen atau masalah pribadi dengan pelaku. Korban heran, entah karena faktor apa pelaku menikamnya. 

"Saya minta kepada penegak hukum untuk mengusut kasus ini hingga tuntas dan segera diamankan pelaku," harap korban.

Diketahui, korban mengalami luka tikam di perut sebelah kanan dengan kedalaman 7 cm. Penikaman dengan pisau sesuai dengan hasil pemeriksaan di RSUD dr. M Thomsen Nias. Korban juga mengalami penusukan di betis dan serta dua tusukan di punggung sebelah kanan.

Dilansir media deteksi.co, Kepala Desa Fadoro, Kecamatan Sirombu, Famatoronia Hia, menjelaskan kepada media, benar ada kejadian di desanya pada Minggu sekitar pukul 05.00 WIB. Dia menyebut, rumahnya dilempar orang pakai batu. "Saya dibangunkan istri. Lalu, saya langsung keluar melihat. Saya lihat ada dua orang, satu dewasa pakai baju warna kuning dan satu anak-anak pakai baju hitam. Kemudian mereka kabur ke arah Selatan pakai motor," paparnya.

Menurut kepala desa itu, ada anak-anak yang lagi lari pagi. "Mereka menyampaikan ke saya kalau rumah kepala desa tadi dilempar batu, Kami lihat pak kades," ujarnya menirukan kata anak-anak itu. 

Kemudian, mereka mengejar dan setelah mereka tahu siapa pelakunya. "Selanjutnya mereka balik dan memberitahukan, bahwa orang itu adalah inisial BH baju warna kuning dan kawannya seorang anak anak memakai baju warna hitam," tuturnya. 

"Lalu, sewaktu BH dan kawannya balik dari arah selatan, adik saya menanyakan ke BH berkata, mengapa kamu melempar batu rumah kami. Pada waktu bersamaan BH turun dari motor lalu menumbuk adik saya, sehingga terjatuh di aspal, kepalanya luka dan pingsan sampai sekitar 15 menit," ujar kepala desa.

"Lalu, pelaku BH lari. Pada saat BH lari dia terjatuh di tumpukan pasir di depan rumahku dan di situ ada botol-botol. Kemudian, saya perintahkan agar BH diamankan, lalu dia diamankan di depan rumah ibu pendeta. setelah itu, saya sebagai kades menghubungi Kapolsek Sirombu melalu HP dan tidak lama kemudian pihak Polsek Sirombu datang dan membawa diduga pelaku inisial BH," jelasnya.

Kades Fadoro Famatoronia membantah terkait tuduhan kepadanya yang mengatakan menikam inisial BH.  "Saya tidak terima di tuduh pelaku penikaman BH, sementara kalau memang benar ada niat jahat samanya, ngapain saya telepon polisi. Jadi, tuduhan itu tidak benar. Bahkan kejadian ini,telah saya laporkan ke Polsek Sirombu dan saya berharap agar dicari kebenarannya," harap kades.  (yamoni)

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama