Wagub Jadi Penceramah di Masjid Raya Sumbar

Wagub beri ceramah ke jemaah. (humas)


PADANG- Wakil Gubernur Sumatera Barat Audy Joinaldy bertindak sebagai penceramah shalat tarawih di Masjid Raya Sumbar, Jumat (7/5/2021). Judul yang ia sampaikan, Ekonomi Dalam Perspektif Islam dan Adat Minangkabau.

Menurut dia, masyarakat dan pemerintah dikagetkan dengan beberapa terjadi peningkatan signifikan kasus Covid-19 di Sumbar. Pandemi membuat pemerintah mereposisi langkah ke depan dengan mengutamakan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam pembangunan.

"Selain akselerasi otomasi dan digitalisasi tentunya ada tren yang mengharuskan kita semua melakukan pemulihan hijau. Ternyata Covid-19 berdampak pada tujuan berkelanjutan terhadap risiko ekonomi yang kita alami, penurunan daya beli masyarakat, angka kemiskinan meningkat," kata Audy Joinaldy.

Keadaan saat ini sangat memprihatinkan, terutama untuk kalangan milenial cenderung tidak bisa menghadapi tantangan hidup. Milenial harus bisa memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan Pendidikan agama yang sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW. 

"Alhamdulillah, ilmu selain membentengi diri dan membekali diri perubahan kehidupan pada zaman yang baru. Sebagai milenial Minang merupakan generasi yang akan membawa perubahan untuk Indonesia, khususnya Sumbar," ujarnya.

Di tengah perkembangan zaman yang sangat cepat masyarakat ditantang dengan krisis ekonomi yang menjadi salah satu faktor yang memicu adalah pandemi harus memiliki kemapanan ekonomi yang menciptakan suasana yang membuat seseorang terpaksa untuk berbuat kriminalitas. 

"Kita sangat beruntung dilahirkan di Minangkabau. Masyarakat Minangkabau adalah orang-orang yang sangat sadar akan identitas khas mereka," imbuhnya.

Masuknya pengaruh modern tidak serta merta dapat mengubah dan menggoyahkan sudut pandang orang Minang. Hal ini dikarenakan karena falsafah hidup yang bersumber dari adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (ABS-SBK) yang berarti dalam menjalankan adat tidak boleh bertentangan dengan syariat Islam. 

"Kita mempunyai keuangan yang dikumpulkan untuk berbagi bersama. Hal ini jika kita kelola dengan baik, akan menjadi potensi yang sangat luar biasa dan bisa memajukan kesejahteraan umat. Potensi yang kita miliki yaitu zakat umat yang kita Kelola dengan baik dengan angka yang sangat besar, pada 2019 hingga 2020 Baznas bisa mengumpulkan hingga Rp239.003 miliar," jelasnya.

Namun hasil ini belum optimal. Bisa dibayangkan jika maksimalnya berapa besar kekuatan umat muslim di Indonesia yang memiliki penduduk muslim terbesar di dunia. Namun potensi ini banyak belum disadari masyarakat, masih banyak orang yang memiliki harta yang tidak dizakatkan, padahal ini bisa menjadi jawaban atas permasalahan yang tengah melanda Indonesia.

Potensi zakat dari umat Islam di Indonesia khususnya Sumatera Barat sangatlah besar, namun realisasinya masih sedikit. Setidaknya ada tiga kendala yang membuat penerimaan zakat di Indonesia masih minim. 

Pertama, dari sisi literasi dan edukasi. Pemahaman masyarakat selama ini beranggapan zakat hanya sebatas zakat fitrah saja, serta zakat disalurkan sendiri kepada orang yang dikenal yang belum tentu tepat sasaran. 

Kedua, perlunya penguatan kapasitas Sumberdaya Manusia (SDM) pengelola zakat (amil zakat). Ketiga, rendahnya pemahaman ekonomi islam, dimana zakat termasuk di dalamnya. 

"Perlu komitmen kita bersama untuk mengatasi ketiga kendala di atas sehingga realisasi zakat di Sumatera Barat dapat meningkat," tutupnya.  (humas setdaprov sumbar)


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama