Subsidi Elpiji Bengkak 66 Persen

 Petugas mengisi gas elpiji. (media indonesia)


JAKARTA-PT Pertamina mencatat penyaluran elpiji bersubsidi hingga April 2,42 juta metrik ton. Angka ini naik 4,9 persen daripada realisasi april tahun lalu 2,30 juta metrik ton.

Direktur Utama Pertamina Patra Niaga  Alfian Nasution menjelaskan kuota elpiji bersubsidi pada tahun ini dipatok 7,5 juta metrik ton. Naik 5,1 persen dibandingkan kuota 2020 yang 7,1 juta metrik ton. Hanya dari sisi kuota volume pada April tahun ini turun 2,1 persen dibandingkan kuota yang ditetapkan.

Hanya saja, secara jumlah angka alokasi subsidi realisasi pada April membengkak 66 persen. "Sedangkan nilai subsidi dibandingkan dengan realisasi 2020 APBN 2021 sedikit lebih tinggi Rp 40,29 triliun, namun realsiasi 2021 year to date April ada kenaikan 66 persen," ujar Alfian di Jakarta yang diwartakan republika.co.id.

Penyebab dari kenaikan ini menurutnya karena harga acuan elpiji atau contract price aramco (CPA) mengalami kenaikan dibandingkan dengan asumsi yang digunakan pada APBN yaitu sebesar 379 dolar per metrik ton. Sementara realisasi dari Januari-April 570 per metrik ton.

Dia mengatakan sebaran outlet di seluruh Indonesia hampir semua di atas 90 persen. Namun ada juga beberapa daerah yang di bawah 90 persen, misalnya Sumatera bagian Utara dan Kalimantan. "Jabar, Jateng sudah tersedia di tiap desa, Sulawesi 100 persen nasional 91 persen," katanya.

Kendala daerah yang belum memiliki outlet menurutnya dikarenakan kendala geografis. Direncanakan pada akhir 2021 Pertamina akan menyediakan outlet di Papua dan Maluku yang belum terkonvensi."Dengan selesainya di 2021 maupun awal 2022 konvensi Papua dan Maluku bisa segera lancar," jelasnya. (*)


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama