Tiga Pembicara Tampil di Konferensi Internasional Hari Pertama

 

Peserta konferensi internasional secara virtual

PADANG-Konferensi internasional atau International Conference on Gender, Culture and Society (ICGCS 2021) yang diadakan Pusat Pengembangan Gender, Anak dan Keluarga (PPGAK) Universitas Andalas dan ASWGI Indonesia, Senin (30/8/2021) resmi dimulai. Di hari pertama, tiga pembicara tampil secara virtual.

Kegiatan ICGCS 2021 diawali dengan pemberian opening speech oleh Ike Revita yang juga menjadi ketua konferensi internasional itu. Ike Revita menyampaikan, tujuan penyelenggaraan konferensi untuk mempromosikan  wawasan dan diskusi baru mengenai perspektif global saat ini dengan mempertimbangkan perbedaan pendekatan bidang akademik dan mata pelajaran dari waktu ke waktu, negara dan sektor ekonomi dengan implikasinya. 

Tujuan lainnya, meningkatkan dan berbagi pengetahuan ilmiah tentang penelitian gender, anak dan keluarga.  Ketua Asosiasi Pusat Studi Wanita, Gender, Anak dan Keluarga Indonesia (ASWGI), Prof. Emy Susanti dan Rektor Universitas Andalas, Prof. Yuliandri,juga turut membuka ICGCS.

PPGAK Universitas Andalas diketuai Dr. Jendrius.  Dalam kondisi pandemi Covid-19 yang belum kunjung usai, penyelenggaraan 1st ICGCS 2021 secara virtual diharapkan mampu menjadi media dan juga pioneer tempat bertemunya para scholar, civitas akademika, peneliti, akademisi, mahasiswa, pembuat kebijakan, pemerhati masalah gender serta lembaga pembangunan nasional maupun internasional dalam upaya menyiapkan langkah-langkah dalam menghadapi tantangan yang berkembang terhadap kesetaraan gender dan inklusi sosial.

Sekretaris 1st ICGCS Andri Rusta, menyebutkan, konferensi internasional dilaksanakan 30 - 31 Agustus 2021 dengan menghadirkan pembicara-pembicara dari tujuh negara, Jepang, Australia, Amerika Serikat, Canada, Malaysia, Inggris, dan Indonesia. Lima keynote speaker akan hadir secara virtual untuk menyampaikan berbagai diskusi dan topik menarik mengenai gender, Prof. Alimatul Qibtiyah, (UIN Sunan Kalijaga/Komnas Perempuan) Dr. Jendrius (Universitas Andalas), Prof. Hiraishi Noriko (Tsukuba University Jepang), Dr. Adis Duderija (Griffith University, Australia) dan Dr. Bernadette P. Resurrecion (Queen’s University, Canada)

Total yang akan hadir pada 1st ICGCS ini 135 penyaji dari 50 institusi, tidak hanya universitas tetapi juga NGO serta Lembaga riset negara, seperti. Nagoya University Jepang, Portsmouth University Inggris, Universiti Kebangsaan Malaysia, Women Research Institue dengan berbagai sub tema. Adapun luaran kegiatan ini direncanakan dipublikasikan di prosiding terindeks Scopus dan jurnal nasional terakreditasi Sinta.

Pada hari pertama, ada tiga pembicara kunci, Dr. Bernadette P Resurreccion dari Queen University, Canada, Dr. Jendrius dari Universitas Andalas, Indonesia dan Dr. Adis Duderija dari Griffith University Australia. 

Bernadette P. Ressureccion menjelaskan kaitan antara gender and climate change dimana dalam program clean and green yang mendukung kesehatan lingkungan serta kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana tidak selalu adil atau setara bagi semua gender, masih ada beberapa pihak yang termarginalkan seperti perempuan yang tidak terlibat dalam prosesnya.

Keynote speaker dari Indonesia yang juga sebagai Ketua PPGAK, Dr. Jendrius melalui presentasinya melaporkan terkait perceraian dimana menurut Jendrius pada 10 tahun terakhir terjadi peningkatan kasus perceraian di Indonesia. Kasus cerai gugat juga mengalami peningkatan. Hal ini tampak pada data dari Pengadilan Agama. 

"Kasus perceraian lainnya yang juga banyak terjadi adalah cerai ghaib yang didefinisikan sebagai tidak diketahuinya keberadaan dari suami/istri  yang menggugat," katanya. 

Selain itu masih menurut Jendrius, perceraian tidak bisa dianggap sebagai hari kiamat bagi keluarga atau pasangan, bahkan perceraian bisa dianggap menjadi suatu konsekuensi positif dari hidup berpisah tetapi bersama. (ed)


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama