Petani di Hamparan Sawah Keltan Topi Lawik Supayang Panen Padi

loading...

Kepala Dinas Pertanian Tanah Datar, Yulfiardi bersama aparat dan petani lainnya, saat melakukan panen padi di hamparan sawah Keltan Topi Lawik, Nagari Supayang. (musriadi musanif)

mjnews.id - Istilah panen raya tak dikenal di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat karena setiap bulan ada saja hamparan milik petani yang panen. Produksinya pun cukup bagus, sehingga menjadi surplus dan mampu memasok kebutuhan beras daerah tetangga.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Pertanian Yulfiardi, Selasa (14/4/2020), saat menyambut panenan yang dilakukan Kelompok Tani Topi Lawik Jorong Taratak Indah, Nagari Supayang. Keltan beranggotakan 74 orang yang sebagian besar adalah petani penggarap.

“Panen padi di sawah-sawah petani merata setiap bulan, sehingga kita tidak mengenal panen raya. Pada Maret 2020 ini misalnya, ada 13.639 hektare sawah petani yang panen, sementara April-Desember ini diperkirakan panenan berlangsung di 41.210 hektare, atau rata-rata 4.571 hektare perbulan,” katanya.

Berdasarkan data Januari-Maret 2020, ujarnya, petani Tanah Datar mampu menghasilkan 46.644 ton beras, sementara kebutuhan lokal hanya berada pada angka 10.439 ton. Artinya, kata dia, terjadi surplus besar sebanyak 36.204 ton beras. Dengan begitu, petani Tanah Datar bisa mengirim beras memenuhi kebutuhan daerah lain.

Mencermati angka-angka produksi padi dan beras yang dihasilkan petani, Yulfiardi optimis, ketersediaan padi selaku sumber pangan utama akan cukup hingga beberapa bulan ke depan.

Dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini, menurutnya, Dinas Pertanian berkelanjutan memberi laporan ke pemerintah pusat terkait dengan produksi pertanian setiap minggu. Laporannya disampaikan melalui video conference dengan Kementerian Pertanian.

Selain padi, imbuhnya, ketersediaan sumber pangan lainnya juga terbilang cukup untuk tiga bulan ke depan.

"Beras, jagung, cabai, daging sapi, daging ayam, dan telur ayam diperkirakan surplus, sementara bawang merah dan bawang putih ditaksir akan berada pada posisi minus," ucapnya.

Guna memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat, ujarnya, bawang putih dan bawang merah memang memerlukan adanya pasokan dari daerah lain.

Yuilus selaku ketua Keltan Topi Lawik dalam laporannya menyatakan, panen anggotanya saat ini mencapai 34 hektare dengan perkiraan produksi tujuh ton. Setiap satu hektare sawah, katanya, mampu memproduksi hingga lima ton.

“Selain memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, biasanya beras produksi anggota kami juga memenuhi kebutuhan dari luar daerah, termasuk dikirim ke Provinsi Riau,” terangnya. (mus)




 

Komentar Anda

Lebih baru Lebih lama