Sepenggal Kisah Dokter dan Perawat di Tengah Pandemi COVID-19

Ilustrasi.

Dokter dan perawat, garda terdepan penanganan pasien Covid-19. Sebab mereka berhadapan langsung dengan pasien yang terjangkit virus corona. Apalagi, di tengah keterbatasan alat dan fasilitas kesehatan, mereka adalah ‘prajurit’ yang siap ‘memerangi’ virus corona. Meninggalkan keluarga dan orang-orang tercinta di rumah, melaksanakan tugas melayani mereka yang membutuhkan pertolongan nya. Tak main-main, nyawa jadi taruhannya.

Hal itulah yang dirasakan beberapa dokter spesialis paru yang bertugas di sejumlah rumah sakit di Sumatera Barat dan perawat di RSAM Bukittinggi. Melalui jumpa pers online yang diprakarsai Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sumbar, Wakil Ketua Satgas Covid-19 Rumah Sakit Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi, Sumatera Barat dokter Deddy Herman men ceritakan suka dukanya sebagai dokter ditengah pandemik Covid-19.

“Hal yang paling sulit bagi saya adalah berpisah dengan keluarga. Apabila sudah kontak dengan pasien, kita terpaksa berpisah dengan mereka. Kalau kita pulang ke rumah, tentu membawa virus untuk anak-anak dan istri. Terus terang, kita ingin memeluk dan menyanyikan lagu menjelang tidur. Tapi itu tidak bisa,” ucap dokter Deddy dengan mata berkaca-kaca di hadapan sejumlah wartawan melalui aplikasi Zoom.

Ia pun tidak tahu kapan bisa pulang ke rumah. Bisa dua bulan atau tiga bulan. Yang jelas sekarang, Deddy mengharapkan keseriusan pemerintah daerah dan masyarakat untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona ini, serta tetap berada di rumah saja, kalau tidak ada keperluan mendesak.

Ia meminta kepada masyarakat perantauan yang berasal dari daerah pandemik hendaknya jangan pulang kampung dulu. Dari pada pulang kampung membawa virus, tentu akan menularkan ke orang-orang yang mereka cintai.

“Di saat itu, kami tenaga medis tidak bisa istirahat lagi,” kata dokter Deddy yang merasa takut apabila ajal datang menjemput.

“Ketika datang ajal saya menjemput, bagaimana anak-anak dan istri, bagaimana orangtua ke depannya,” tutup dokter Deddy yang amat rindu kepada mereka semua.

Namun sebagai dokter spesialis paru, ia sudah bersumpah untuk melayani pasien semaksimal mungkin. Sekuat tenaga memberikan pertolongan dengan hati tulus dan ikhlas.

Hal senada juga dirasakan, Perawat Penanggung Jawab Ruang Rawat Inap Covid RSUD Dr Ahmad Mochtar Bukittinggi, Hj Misfatria. Menurutnya, Covid-19 ini adalah kasus baru. Walaupun sebetulnya tidak terlalu berbeda dari penyakit influenza lainnya. Namun yang membedakannya, Covid-19 penularannya bisa dari manusia ke manusia.

“Ketika pertama kali saya pribadi agak ada rasa cemas bercampur khawatir. Jangan-jangan saya terpapar nantinya. Sebab virus ini bisa menular dari manusia ke manusia. Semua rasa itu hilang dengan niat suci dan ikhlas,” cerita Misfatria.

Sebagai perawat senior, ia pun memberanikan diri demi memberikan contoh kepada para juniornya yang sama sekali belum pernah berhadapan dengan pasien Covid-19. Sementara itu, Misfatria sudah pernah punya pengalaman sebelumnya, Mers dan Sars namun bukan pasien terpapar Covid-19.

“Intinya, kerjasama dengan pasien. Kalau kita cemas dan takut, tentu akan mempengaruhi pasien kelak. Mereka merasakan dua kali lipat apa yang kami rasakan,” kata Misfatria yang selalu menekankan agar mengunakan Alat Pelindung Diri sesuai standar.

Ia pun tak berani menangani pasien secara langsung apabila tidak mengunakan APD sesuai standar.

Misfatria pun menceritakan kalau ia sempat merasakan deg-degkan menunggu hasil positif atau negatifnya pasien terpapar Covid-19. Kalau hasilnya keluar dan positif, ia pun merasakan kecemasan jangan sampai ia bersama tenaga medis lainnya salah prosedural menanggani pasien Covid-19.

“Saya berdoa ya Allah, jangan sampai saya salah prosedural dan terpapar virus Covid-19. Kala itu ada rasa takut dan was-was,” kenang Misfatria.

Namun, hingga saat ini hasil pemeriksaan swep dirinya negatif. “Semuanya dilakukan dengan hati yang ikhlas dan tulus,” ucapnya.

Ia mengimbau kepada masyarakat, supaya mengikuti ajuran dari pemerintah. Untuk tetap melakukan social distancing dan physical distancing. Kemudian Misfatria melalui akun media sosialnya seperti Facebook ataupun Instagram memberikan edukasi kepada masyarakat dengan prilaku hidup bersih dan sehat.

Kecemasan yang sama juga dirasakan dokter paru di RSUD M Zein Painan dr Ricky Awal. Ditengah keterbatasan sarana dan prasarana, setiap pagi Ricky Awal dihinggapi rasa kecemasan.

“Yakinkah kita pulang nanti tidak membawa sesuatu ke rumah. Sementara kita belum punya pemeriksaan memadai. Menghadapi pasien yang abu-abu terpapar virus corona. Risikonya sangat tinggi sekali,” tuturnya.

Belum lagi, menghadapi calon pasien yang cemas berlebihan. Mereka merasa sudah berkontak dengan gejala mirip Covid-19, demam, batuk dan flu. Dokter Ricky pun memberikan pemahaman kepada pasien tersebut. Belum lagi, calon pasien yang berbohong terkait riwayat perjalanan. Padahal itu sangat menentukan sekali kategori mereka apakah ODP atau tidak. Itu mereka lakukan ketakutan dikucilkan dari lingkungannya.

Hal senada juga dirasakan, dokter Hendresta, yang bertugas di RSUD Sungai Dareh Dhamasraya. Ia sudah mempersiapkan diri dari awal menerima dan melayani pasien Covid-19.

“Semua kecemasan disingkirkan, persiapan diri menjaga kesehatan dan doa serta selalu berkonsultasi dengan konsuler,” ucapnya.

Namun yang menjadi kendalanya adalah sarana prasarana. Terutama, APD dan masker.
Hal senada juga dirasakan dr Meli Yusanti yang bertugas di RSUD Ali Hanafiah Batusangkar.

“Kami masih menggunakan jas hujan penganti APD dan masker pun terbatas,” tuturnya. (*/Lenggogeni)
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama