Ada Covid-19 Varian Lambda, Pakar Minta Patuhi Prokes dan Vaksinasi



JAKARTA-Covid-19 varian Lambda jadi momok baru di tengah lonjakan kasus Corona di seluruh dunia. Varian terbaru ini dikenal juga dengan nama resmi C37.

Varian Lambda menambah daftar varian baru yang sebelumnya sudah dikenal banyak orang, alpha, beta, gamma dan delta. Bahkan varian delta, yang diketahui cepat menular, kini memasuki Indonesia dan menjadi salah satu faktor drastisnya angka infeksi baru.

Varian Lambda dideteksi pertama kali pada Agustus 2020 di Peru dan kini mendominasi negara tersebut. Ada sekitar 81 persen dari total kasus Covid-19 yang berasal dari varian Lambda, sementara 193.389 orang meninggal dunia akibat varian tersebut.

Selain Peru, sejauh ini sudah ada 30 negara yang mendeteksi varian Lambda, seperti di Inggris, Argentina, Brasil, Kolombia, Ekuador, dan Meksiko, hingga Chile.

Berbeda dengan varian lainnya, ahli virologi WHO menyebut varian Lambda tidak memiliki karakteristik yang lebih agresif. Masih masuk dalam variant of interest (VoI). "Sejauh ini kami tidak melihat indikasi bahwa varian Lambda lebih agresif," kata ahli virologi WHO Jairo Mendez-Rico, dikutip dari DW yang dikutip dari detikcom.

Varian Lambda memiliki berbagai mutasi yang perlu diwaspadai, seperti seperti mutasi L452Q dan F490S. "Mutasi F490S sebelumnya dikaitkan dengan penurunan kerentanan terhadap netralisasi antibodi," kata peneliti Priscila Wink dari Hospital de ClĂ­nicas de Porto Alegre di Rio Grande do Sul dan rekan-rekannya, dikutip dari Medical News.

Meski begitu, Indonesia belum memiliki laporan terkait kemunculan varian Lambda. Terkait gejala, Covid-19 varian asal Peru ini mirip dengan varian lainnya. Gejala yang umum terjadi seperti demam tinggi, batuk secara terus-menerus, dan kehilangan indra penciuman atau perasa, juga dialami pasien yang terinfeksi Lambda.

Menurut Public Health England (PHE), hingga saat ini tak ada bukti varian Corona tersebut dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah. Karena itu, varian Lambda masih masuk VoI, bukan variant of concern (VoC), yang menyebabkan peningkatan keparahan penyakit atau menular lebih cepat.

"Ada kemungkinan itu menunjukkan tingkat infeksi yang lebih tinggi, tetapi kami belum memiliki cukup data yang dapat diandalkan untuk membandingkannya dengan varian Gamma atau Delta," ucap Mendez.

Menurut studi terbaru dari New York University Grossman School of Medicine, vaksin Pfizer dan Moderna bisa membantu mencegah varian baru Corona dan risiko gejala berat.

"Hasilnya menunjukkan vaksin yang digunakan saat ini akan tetap protektif terhadap varian Lambda dan terapi antibodi monoklonal akan tetap efektif," tulis peneliti dalam jurnal yang dipublikasi di BioRxiv, dikutip dari Mirror UK, Rabu (7/6/2021).

"Temuan ini menyoroti pentingnya vaksinasi yang akan melindungi individu dari penyakit, mengurangi penyebaran virus, dan memperlambat munculnya varian baru," imbuhnya.

Patuhi prokes

Namun masyarakat tak perlu khawatir menghadapi munculnya varian baru virus Corona. Ketua Institute of Tropical Disease (ITD) Unair Prof Maria Inge Lusida, menawarkan solusi menghadapi Varian Lambda.

"Apapun variannya, solusinya patuhi protokol kesehatan 5M dan segera vaksinasi, jangan tunda vaksinasi," kata Prof Inge dikutip dari laman Universitas Airlangga. (*)



Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama