Dolar Bergejolak, Rupiah Nyaris Menyentuh Rp16.000


JAKARTA, MJ News - Dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang Kamis (19/3) kemarin bergejolak. Nilai tukar mata uang Amerika itu terhadap rupiah nyaris Rp16. 000, yakni berada pada Rp15.929 atau menguat 4,5 persen.

Penguatan dolar AS terhadap rupiah tersebut dikhawatirkan dapat menaikkan sejumlah harga produk pangan. Lantaran, mayoritas bahan baku produk pangan yang ada saat ini masih bergantung pada bahan baku impor.

“Tentu kami khawatir (dengan penguatan dolar AS terhadap rupiah) karena ini akan berpengaruh terhadap harga pokok kita, yang terus terang di industri makanan dan minuman ini masih banyak tergantung dari impor bahan bakunya, ditambah situasi corona seperti ini tentu menjadi beban baru bagi industri, walau untuk ekspor akan lebih baik, tapi kan ekspor sendiri sekarang dalam keadaan sulit,” ujar Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman pada detikcom, Kamis (19/3/2020).

Meski demikian, Adhi memastikan pelaku usaha sebisa mungkin tidak akan menaikkan harga pro duk-produk pangannya terutama di saat daya beli masyarakat saat ini yang semakin melemah.

“Saya yakin dengan kondisi sekarang tentu perusahaan tidak akan menaikkan harga terutama untuk pangan olahan ya, itu kita tidak ada menaikkan harga,” ungkapnya.

Meski demikian, Adhi menilai tidak semua pelaku usaha mampu menekan keuntungannya demi menjaga daya beli masyarakat. Menurutnya pemerintah penting juga untuk turut andil dalam membantu menjaga daya beli masyarakat saat ini.

“Kalau pengusaha besar bisa hedging saat dolar naik maupun turun, tetapi bagi usaha menengah kecil itu biasanya tidak punya kemampuan hedging nilai tukar, sehingga ini akan berfluktuasi di harga bahan bakunya, otomatis perusahaan cuma punya dua pilihan menanggung kenaikan ini dengan mengurangi keuntungannya tau dinaikkan harga jualnya,” terangnya.

Untuk itu, ia dan para pelaku usaha lainnya berharap agar pemerintah segera menerbitkan insentif yang mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus mampu membantu pelaku usaha tetap menawarkan harga yang stabil kepada pembelinya.

“Insentif segera dikeluarkan secepatnya, tidak perlu menunggu karena semakin cepat semakin baik, kemudian kita mengharapkan pemerintah memikirkan daya beli masyarakat supaya tetap dijaga karena ini yang paling penting, saat daya beli masyarakat turun, ekonomi akan jelek,” pungkasnya.

Terpisah, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan, untuk me mastikan tak ada lonjakan harga maka nan, pihaknya telah berupaya mepermudah pengadaan bahan baku impor.

“Pada dasarnya impor bahan baku kita perlancar, mudah-mudahan tidak ada halangan apa pun. Proses impor berjalan sesuai, tidak ada pembatasan. Yang dibatasi tetap seperti semula yaitu hewan hidup dari Tiongkok,” terang dia. (*)
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama