Kupas Corona di ILC, Bu Dokter yang Bagak Itu Rupanya Urang Awak


JAKARTA, MJ News - Dokter spesialis paru Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, dr. Erlina Burhan menyebut alat tes cepat atau rapid test Corona yang dibeli pemerintah bukan untuk diagnosis Corona.

Hal itu disampaikan Erlina Burhan dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) tvOne, Jakarta, Selasa (25/3/2020).

“Sekarang masyarakat panik, semua pesan rapid test online. Bahkan saya dengar ada satu perumahan yang iuran mau beli ravid test,” tambahnya.

Erlina kembali menegaskan, rapid test bukan untuk diagnosis atau menentukan penyakit. Tapi untuk melihat apakah sudah ada anti bodi.

Pernyataan tegas, lugas dan lurus ini cukup mengejutkan di tengah banyaknya masyarakat berburu mendapatkan rapid test tersebut.

Tak hanya sekali itu, Erlina yang juga tampil mengejutkan di ILC sebelumnya. Berani membungkam Ali Mochtar Ngabalin, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan.

Dia membantah pernyataan Ali Ngabalin yang menyebut 248 WNI dari Wuhan, China, dalam kondisi sehat lahir dan batin.

Erlina Burhan menyebut kini 248 WNI dari Wuhan itu dalam kondisi stres. Juga disinggung soal karantina WNI dari Wuhan yang berlangsung selama 2 minggu di Natuna.

Keberanian Erlina menyampaikan apa adanya itu dan sesuai dengan keilmuannya yang dimiliki mendapat respon positif dari banyak pihak. Bahkan sekarang, soal corona dan penanganan corona, Erlina kerap menjadi referensi.

Siapa Erlina Burhan?

Indra Sakti Nauli, wartawan senior Sumbar menuliskan di facebook-nya. “Sudah empat kali tampil di ILC. Dokter Erlina Burhan ini urang awak rupanya. Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Bicara yang nyata-nyata aja. Ngabalin pernah kena skak. Jubir Presiden Fajroel Rahman pun banyak dapat “perintah” dari Erlina...untuk disampaikan ke Presiden Jokowi.”

Indra Sakti Nauli benar. Erlina yang namanya kini dikenal di negeri ini adalah urang awak.

Dikutip dari berbagai sumber, Erlina Burhan atau lengkapnya DR. Dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K), lahir di Padang pada 1966. Dia memperoleh gelar dokter umum dari Universitas Andalas (Unand) pada 1989.

Kemudian meraih gelar magister sains (M.Sc) dari Heidelberg University, Jerman (1995), dan gelar dokter spesialis paru (Sp.P) dari Universitas Indonesia, Jakarta (2004).

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Jakarta periode 2017 2020 dan merupakan kelanjutan amanah dari periode sebelumnya (2015 2017) mengawali kiprah sebagai staf pendidik di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (DPKR) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) sejak 2005.

Pada 2010, Erlina mencapai status konsultan (Sp.P(K)) dan menjadi ketua divisi infeksi sejak 2013. Meraih gelar Doktor (S3) pada 2012 dari Universitas Indonesia (UI) Jakarta setelah sukses mempertahankan disertasinya berjudul Hubungan Konsentrasi Rifampisin Darah dengan Respons Pengobatan Berdasarkan Hasil Biakan Kuman Mycobacterium tuberculosis pada Pasien TB Paru yang Diobati dengan Kombinasi Dosis Tetap.

Erlina terkenal supel dan vokal dan aktif di berbagai inisiasi, program pemerintah, dan kelompok kepakaran nasional maupun internasional yang memiliki kepedulian tinggi terutama terhadap tuberkulosis (TB) dan penyakit infeksi paru.

Beraninya Erlina bicara yang didukung dengan keilmuan yang dimilikinya, telah membuat namanya cepat populer. Mata publik tertuju kepada wanita bertubuh agak gemuk ini saat memberikan pendapat soal corona.

Dan wajar pula, seorang wartawan senior Sumbar Hasril Caniago mengomentari postingan Indra Sakti Nauli di atas, dengan kalimat, ”Batua Indra Sakti Nauli. Kecek Inyiak Rosihan Anwar, salah satu ciri perempuan Minang itu “bagak”. Yo sabana bundo kanduang ko Buk Doto ko." (*/eds)
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama