Tiba di Padang, 114 Perantau Kabupaten Solok Langsung Dikarantina

loading...

Tiba di Padang, 114 Perantau Kabupaten Solok Langsung Dikarantina
Bus Gumarang Jaya yang Membawa Perantau asal Solok. (ist)

mjnews.id - Sekitar 114 perantau asal Kabupaten Solok sampai di Padang, Jumat (17/4/2020). Tahap awal mereka datang sebanyak 60 orang menggunakan dua bus Gumarang Jaya. Perantau itu pulang karena sejumlah alasan, mulai dari takut akan wabah Covid-19 hingga karena faktor ekonomi.

“Sekarang baru dua bus yang masuk ke Padang. Dua bus lagi dalam perjalanan,” sebut Wakil Bupati Solok, Yulfadri Nurdin kepada wartawan di Padang, Jumat (17/4/2020) sore.

Disebutkannya, kebanyakan perantau berdomisili di daerah pandemi. Seperti Jakarta, Tangerang, Depok dan Bekasi. Makanya mereka harus dikarantina sebelum pulang ke kampung halaman masing-masing.

“Jadi prosedurnya seluruh perantau akan dikarantina. Kondisi kesehatan mereka akan dipantau. Jika kondisinya memang tidak tertular virus, maka diperbolehkan pulang. Sebaliknya, jika ada gejala mereka akan diisolasi selama 14 hari,” terang Yulfadri.

Para perantau tersebut nantinya akan menjalani rapid test dan swab test jika memungkinkan. Setelah selesai karantina sesuai waktu yang ditentukan, maka perantau akan difasilitasi kembali ke kampung halamannya.

Di kampung mereka juga harus melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Gugus tugas Covid-19 di nagari pun akan mengawasi mereka. Ini tujuannya untuk memutus mata rantai penularan virus.

“Proses karantina ini harus dipatuhi, karena ini prosedur yang sudah disepakati. Kami dari Pemkab Solok juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah provinsi, karena sudah memfasilitasi kami dalam memberikan pelayanan pada para perantau. Sebab fasilitas yang ada di daerah kami tidak memadai. Makanya kami memilih tempat karantina di Badan Diklat ini,” terangnya.

Saat ini katanya, sudah 6000 perantau asal Solok yang pulang kampung sebagai dampak dari wabah Covid-19.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Sumatera Barat, Dr. H. Jefrinal Arifin, mengatakan di Balai Diklat Padang Besi terdapat dua gedung yang digunakan untuk karantina perantau yang pulang. Gedung itu Gedung Merah Putih dengan kapasitas sekitar 40 kamar dan gedung Saiyo 20 kamar.

“Semua kebutuhan perantau selama karantina sudah disediakan pemerintah provinsi. Petugas kesehatan juga sudah stanby menjaga dan mengawasi. Mereka terdiri dari dokter, perawat dan tenaga medis lainnya. Petugas ini yang direkrut pemerintah provinsi beberapa waktu lalu,” sebut Jefrinal.

Kabid Yankes Dinas Kesehatan Sumbar, Busril mengatakan, para perantau itu nantinya akan dipilah-pilah, untuk mengetahui rekam jejak mereka selama di rantau. Apakah pernah kontak langsung dengan pasien positif Covid-19 atau tidak.

“Jadi yang diinapkan itu OPD, PDP. Ini adalah tahap-tahapan selama karantina. Pemprov Sumbar dengan Pemkab Solok berkoordinasi, melakukan pendataan,” sebut Busril.

Bagi perantau yang sudah diperiksa dan dipastikan aman dari virus Covid-19 akan diperbolehkan pulang dan diharapkan isolasi mandiri di rumah masing-masing selama 14 hari. Namun bagi mereka yang memiliki gejala harus menjalani karantina di Balai Diklat Padang Besi hingga kondisi mereka pulih.

Sementara, salah seorang perantau asal Muaro Pingai, Kecamatan Junjuang Siriah, Kabupaten Solok mengaku bernama Revido Fernando (19) berucap terpaksa pulang kampung karena faktor ekonomi.

“Saya bekerja di sebuah konveksi. Perusahaan itu kini tutup sebab Tanah Abang sudah tutup sejak satu bulan belakangan. Otomatis banyak karyawan yang dirumahkan,” sebutnya.

Melihat kondisi yang kian sulit, dia bersama 114 perantau lainnya memilih pulang kampung daripada bertahan hidup di rantau.

Pulang dengan Sisa Tabungan

Di bawah guyuran hujan lebat sekitar 60 perantau datang dari Pulau Jawa. Mereka tiba di kampung halaman menggunakan dua bus Gumarang Jaya. Jumat sore (17/4/2020), bus berwarna merah corak putih kuning orange biru tua itu masuk ke kawasan Kantor Balai Diklat Provinsi Sumbar di Padang Besi, Kota Padang. Kantor itu kini jadi salah satu tempat isolasi bagi perantau yang datang dari daerah pandemi Covid-19.

Data yang dilaporkan, Pemerintah Provinsi Sumbar jumlah mereka 114 orang. Mereka terdiri dari orang dewasa, remaja hingga balita. Satu persatu mereka turun dari bus.

Seorang petugas di kantor diklat itu memayungi perantau yang turun dalam antrian, agar mereka tidak terkena air hujan. Karena licin seorang perantau sempat terpeleset dan jatuh. Dia pun berdiri kembali dan masuk ke ruangan untuk disemprot dengan disinfektan. Lalu petugas lain memberikan para perantau itu masker berwarna orange. Mereka diminta petugas menggunakan masker, meski mereka sudah memiliki masker sendiri.

Di gedung merah putih berlantai empat itu, perantau disambut para pejabat. Mulai dari Wakil Bupati Solok, Yulfadri Nurdin, serta sejumlah pejabat provinsi Sumbar. Setelah mendapat pemeriksaan dan didata nama dan alamat lengkap, perantau yang banyak berasal dari Paninggahan itu naik ke lantai atas untuk menyantap nasi bungkus yang sudah disiapkan pemerintah provinsi.

Refindo Fernando (19), salah seorang perantau asal Muaro Pingai mengatakan dirinya terpaksa pulang kampung karena memang tak ada lagi yang bisa dilakukan di rantau.

“Saya karyawan konveksi. Tanah Abang juga sudah tutup sejak satu bulan lalu. Jadi saya sudah tidak punya penghasilan lagi, sedangkan biaya hidup terus berjalan. Makanya saya memilih untuk pulang ke kampung,” kata remaja berhidung mancung itu.

Refindo, sudah merantau sejak dua tahun lalu. Sebab di kampung tak ada yang bisa dia perbuat. Makanya dia memutuskan merantau. Nasib membawanya bekerja di sebuah konveksi. Gaji yang didapat ditabung sedikit demi sedikit. Sudah terasa enak menerima gaji, hingga wabah Covid-19 melanda Tanah Air.

“Dengan sisa tabungan yang ada saya memutuskan untuk pulang. Kalau tidak, mau hidup dengan ada di rantau. Membebani orang pun tidak mungkin, sebab kondisi susah seperti sekarang,” ceritanya.

Di rantau Refindo tinggal di Tanggerang. Di sana kata dia belum ada bantuan yang diterima dari pemerintah. Kondisi ini pula yang mengguatkan dia untuk kembali ke kampung halaman.

Untuk pemberlakukan karantina bagi perantau yang pulang, Refindoa mengaku tidak tahu sama sekali. Makanya dia sedikit kaget ketika ada informasi kalau mereka tidak boleh langsung pulang ke kampung halaman.

“Saya tidak tahu kalau setiap perantau harus di karantina di sini (Balai Diklat). Meski demikian saya pribadi tidak ada masalah, jika memang ini yang terbaik untuk perantau,” ujarnya.

Ketika ditanya bisa tertular virus Covid-19, dia meyakini kalau semua penumpang yang satu bus dengan mereka berada dalam kondisi sehat. Sebab sebelum berangkat setiap penumpang diperiksa kesehatannya.

“Kami juga saling kenal satu sama lain. Kalau ada yang sakit tentu kami tahu dan kami yakin tidak membawa virus ke kampung,” sebutnya.

Perantau lainnya yang enggan disebutkan namanya pun mengutarakan kalau kondisi mereka baik-baik saja.

“Kalau kami sakit tentu kami tidak bisa pulang kampung. Kami ini diperiksa dulu baru boleh melanjutkan perjalanan,” katanya berlalu dan enggan untuk ditanya-tanya kembali.

Perempuan berkerudung itu pun membawa anak-anaknya usia balita dan usia sekolah ke lantai 4 Gedung Merah Putih.

Wakil Bupati Solok, Yulfadri Nurdin, menghargai kedatangan para perantau. Meski demikian mereka mesti menjalani karantina sesuai ketentuan di Balai Diklat Padang Besi Pemprov Sumbar.

“Lokasi ini dipilih karena tempat yang kami sediakan di daerah kurang memadai,” sebut Yulfadri.

Pada kesempatan itu, dia meminta kepada perantau untuk menunda rencana pulang kampung, tujuannya untuk memutus mata rantai penularan Covid-19. Mengingat perantau berdomisili dari daerah pandemi.

“Bagi yang sudah terlanjur pulang, ya harus menjalani karantina. Mau tidak mau harus dikarantina. Alasannya jelas untuk memutus mata rantai penularan virus. Sebab kita tidak tahu, kalau-kalau membawa virus dan menularkan ke orang di kampung,” ujarnya.

Saat ini sebutnya setidaknya sudah 6.000 perantau yang pulang kampung ke Solok.

Yulfadri berharap, wabah Covid-19 segera berlalu, agar seluruh aktivitas bisa kembali normal seperti sebelumnya. (yuke)




 

Komentar Anda

Lebih baru Lebih lama