Ke Jakarta, Dulu dan Sekarang


Gerbang Tol Hutama Karya. (Hutama Karya)



PADANG-Wakil Bupati Tanah Datar Richi Aprian mengusulkan ke pemerintah pusat pembangunan pintu tol di Kubu Karambia dan Barulak. Usulan itu ditanggap beragam oleh warganet. Banyak yang setuju dan tak sedikit pula yang menolak.


Banyak komentar di laman facebook yang menyebut tol itu tak ada manfaat. Bahkan, ada yang menyebut tol hanya untuk orang kaya. Tol disebut pula hanya akan menambah beban masyaakat. Sementara mereka yang mendukung menyebut, tol itu diperlukan agar produk daerah bisa memiliki daya saing. Tol dinilai akan memperlancar pergerakan barang dan jasa.


Yang pasti, sejak ada tol, berubah pula pergerakan orang Sumatera Barat. Mereka yang dulu naik pesawat, sekarang beralih ke bus.  Bila dulu ke Jakarta 42 jam, sekarang 26 saja. Tiap zaman memiliki saksi sejarah, ini kisahnya:


Amrizal, merupakan penumpang bus era 1990-an rute Padang-Jakarta. Dulu, untuk sampai ke tanah seberang butuh waktu paling tidak 42 sampai 48 jam. 


Masih segar dalam ingatannya, bila berangkat Selasa pagi dari Padang, persisnya dari Terminal Lintas Andalas, sampai di Pulogadung, Kamis dinihari. "Hampir 42 jam," kata dia pada liputankini.com. 


Amrizal paling tidak sekali enam bulan bolak-balik Padang-Jakarta. Dia merupakan mahasiswa  pada sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Bila libur pulang ke Padang, jelang mulai perkuliahan di semester baru, dia balik ke Jakarta.


Bila awal semester baru dimulai Senin, maka dia memilih berangkat lebih lebih cepat, misalnya Rabu. Kalau dia berangkat Jumat, takut ada apa-apa di jalan, misalnya mobil rusak, sehingga belum tentu Senin sampai di Jakarta. "Jadi, harus pandai-pandai mengatur jadwal keberangkatan, sehingga tak terlambat sampai di tujuan," katanya.


Bila ke Jakarta, dia menggunakan bus langganan. Pemberhentian terakhir bus di Pulogadung, sebelumnya juga menurunkan penumpang di Terminal Rawamangun. 


Dikatakan Amrizal, bila berangkat Jumat pagi dari Jakarta, maka sampai di Padang Minggu dinihari. Begitu masuk Padang, penumpang akan banyak turun di kawasan Simpang Haru. Dekat tugu Simpang Haru, sudah banyak taksi yang menanti masuknya bus-bus dari Jakarta.


Amrizal menyebutkan, bus menyusuri lintas tengah Sumatera. Ada empat provinsi yang mesti dilewati bila hendak ke Jakarta, masing-masing, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung dan Jawa Barat. Pada 1990-an, belum ada Provinsi Banten.


Dikatakan Amrizal, di masa itu, ongkos Padang-Jakarta Rp17 ribu untuk ekonomi, sementara bus ber-AC Rp34 ribu. Perjalanan hampir dua hari dua malam itu, dengan lima kali persinggahan untuk makan dan istirahat. Jika dari Padang, bus berhenti di Gunung Medan, Lubuk Linggau (Sumatera Selatan), Kotabumi (Lampung Utara), Lampung Tengah dan Merak. "Bus-bus tertentu malah ada yang enam kali persinggahan," ujarnya.


Kini, zaman berubah. Amrizal biasa melihat bus Padang-Jakarta melintas di kawasan Simpang Haru sekitar pukul 15-an. Masih sore dan belum terbenam matahari, bus dari Jakarta sudah bersileweran di jalanan Padang. 


Andai bus berangkat Selasa pagi dari Jakarta, Rabu siang sudah sampai di Padang. Tak perlu menunggu sampai Kamis dinihari seperti dulu lagi. 


Wardi, warga Padang, jelang puasa lalu berangkat dari Terminal Pondok Pinang Jakarta, Rabu pagi. Dia sampai di Sumbar, Kamis siang. "Tak perlu menghabiskan banyak untuk sampai ke Jakarta sejak ada tol," kata dia.


Bus tujuan Sumbar, hanya tiga kali istirahat di rumah makan, di Lampung, Sumatera Selatan dan Sumbar, sendiri. (ed)


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama